Minggu, 08 November 2015

cerpen musibah yang tak terduga

“Satu jam lagi Aku kembali”
Pagi itu matahari tak seperti hari kemarin, tidak nampak memancarkan cahaya keindahannya. Di atas terlihat langit biru yang terhampar sebanyak mata memandang, indah terpancar dari ke Maha Agungan penciptaNya. Di sudut jalan depan rumahku berisik percakapan dan sedikit tertawa sekumpulan anak Smp terdengar sayup-sayup di telingaku. Mereka santai menikmati perjalanannya, karena waktu masih menunjukkan jam 6.30. Di rumah anakku yang pertama sudah mengenakan baju kebanggaannya, merajut hari di Sekolah Paud yang terletak tidak jauh dari rumahku. Tumben hari itu tidak menuntutku untuk mengerjakan Pr menulis yang sangat tidak disukainya.
Aku juga tidak tahu, kenapa anakku lambat dalam menulis, padahal tulisanku terbilang bagus kalau di bandingkan dengan guru b inggris Hehe,.. Aku  tak bisa menyalahkan anakku ketika ia susah membandingkan cara membaca maupun  menulis b dan d, Sama sekali aku juga tak menyalahkan guru Paud dengan kebijaksaan dan usahanya mengharap anakku untuk bisa menulis dan membaca. Hampir setiap hari dia berusaha bisa menulis, kalau sudah pusing pena yang digenggamannya di lemparkan kearahku sambil berteriak “ susaaaaaaaaah’.Itulah anakku yang sangat kubanggakan, yang tak pernah lelah untuk melalukan sesuatu hal yang bisa jadi sangat menyita pikirannya.
Aku habiskan kopi hitam di meja tepas yang tinggal setengah lagi, ku ambil kunci motor yang sudah nampak di depan mata. Kunci yang sesekali hilang tatkala aku berangkat, kunci yang menyebabkan sedikit cekcok dengan istriku dan kunci itupula yang pernah menyebabkan aku terlambat menghormat bendera di teras sekolah. Yah seperti itulah aku, kadang memarahi istriku, ketika kunci motor yang tidak nampak ketika waktu sudah tidak mengijinkan aku untuk mencarinya. Ku marahi istriku ketika aku mencari kunci motor dengan waktu 1 atau setengah menit untuk berangkat.
Pagi itu sedikit tertib tidak ada perdebatan soal kunci lagi sebab aku sudah siapkan dari malam dan tidak pula ingin lupa lagi apalagi beragumen dengan istriku. Sebelum berangkat ,kuambil kantong yang kupersiapkan tadi malam dan menuju ke ruang dapur untuk mengambil air minum, Breeenk, ngak tahu tersenggol ataupun jatuh sendiri, tiba-tiba tutup panci yang terlekat di atas kompor jatuh kelantai mengeluarkan suara keras dan agak panjang, sepontan aku,istri dan anakku terkejut di buatnya. Lalu terdengarlah tangisan anakku yang masih berumur satu tahun di dekapan istriku. Aku ambil dan kembalikan tutup panci itu ketempat semula, dan beranjak pergi meninggalkan keinginan pertama mengambil air minum.
Pagi itu aku  lajukan sepeda motor ke arah lain dari tempatku mengajar, kantor kecamatan tempat tujuanku saat itu. Hari sabtu kemarin aku mendapatkan mandat dari PKS Kesiswaan untuk menghadiri surat undangan musyawarah perlombaan MTQ se jawa barat. Tiba di depan kecamatan tidak nampak satu orangpun yang berpakaian seperti aku. Hanya nampak segerombolan orang yang memakai pakaian hijau berkumpul di halaman kecamatan, hingga aku bertemu dengan orang yang aku kenal. Kutanyakan perihal kedatanganku, dan beliau menyatakan bahwa di aula kecamatan sedang di adakan sertijab. Aku heran jelas terpangpang di surat itu senin tanggal 05 oktober 2015, tempat aula kecamatan. Apakah ini tidak salah, sebenarnya yang membuat undangan itu siapa dan kenapa bisa terjadi seperti itu.
Sedikit kesal dan setumpuk pertanyaan aku pergi meninggalkan kecamatan, hingga akhirnya aku lajukan sepeda motor ke sekolah suwasta untuk melaksanakan kewajiban. Tiba di sekolah aku sudah di tunggu sebagian guru untuk mengerjakan administrasi yang akan di periksa selasa besok oleh Pengawas. Saat itu aku tidak menolak walaupun terbayang di kepalaku setumpuk pekerjaan yang harus di selesaikan hari itu. Aku sadar aku tidak akan mampu menyelesaikan pekerjaan yang semestinya di kerjakan selama seminggu, dan aku juga sadar bahwa semua yang aku lakukan akan sia-sia. Tapi sama sekali aku tidak menolak, bahkan aku tersenyum dan membukakan kesempatan untuk memberi kesenangan dan ketenangan kepada orang lain. Di kelas sambil menunggu siswa mengerjakan UTSnya aku kerjakan sebisa mungkin. Ku lihat batree laptopku tinggal 15 persen lagi, sedangkan aku lupa menyiapkan cassannya. Sampailah pada titik waktunya laptop itu mati sendiri.   Setelah jam terakhir berbunyi aku pun berlalu ke kantor guru, disana nampak seorang temanku  sedang mengerjakan sesuatu pekerjaan. Dia senang aku ada dan menemaninya dari kesendirian, tapi kesenangannya pudar saat aku berpamitan untuk pulang dulu ke rumah. Hingga dia tersenyum kembali ketika aku berjanji satu jam kemudian aku kembali.
Ku pergi meninggalkan dia, waktu satu jam harus cukup pulang pergi rumah sekolah, ganti baju, makan siang dan merayu istriku, supaya tidak marah ketika aku hendak pergi lagi setelah pulang. Selesai mempersiapkan pekerjaan di sekolah, Satu jam kemudian aku sudah siap berangkat lagi. Baju biru senin sudah terganti kaos, laptof dan cassannya sudah berada di tasku dan kutinggalkan sejenak kesedihan anakku melihat kepergianku.
Sungguh aku  tidak sadar berapa kecepatan motor yang berlalu saat aku melaju ke sekolah itu, yang ada di kepalaku pekerjaan sehari untuk satu minggu. Di depan KUD saat aku mengikuti angkot arah cikajang, tiba-tiba tanpa ku duga mobil itu berhenti sepontan 2 meter di depanku. Aku sadar jika aku injak rem sudah terlambat, jaraknya yang tinggal satu meter pasti aku menabrak angkot tersebut. Aku nyalakan rigting dan berusaha untuk mendahului angkot tersebut, tanpa di duga “Braaak” kaki kanan dan tanganku tertabrak motor yang ada di belakangku. Aku sadar hingga rem tangan ku tekan untuk menghindari supaya laju motorku tertahan. Namun motor yang lain sudah menabrakku lagi dari belakang, hingga sadar saat aku melayang dan menghantam kantongku yang tiba-tiba sudah ada di depan kepala. Traaak, kepelaku berbentur laptop yang ku bawa di dalam tas. Dan akhirnya aku tersungkur juga di jalanan aspal hingga terbaring lemas.
Beberapa detik kemudian terlihat orang-orang mengeliliku, aku mencoba berdiri dan melihat sekelilingku. Hatiku merinding saat terdengar suara anak kecil nangis karena sakit, aku jadi ingat anakku di rumah. Sebelum aku berdiri badanku sudah ada yang menarik untuk di kepinggirkan ke daerah aman. Aku tak kuasa melawan, hingga akhirnya aku berada di pinggir warung dekat KUD yang saat itu tidak terbuka. Aku sadar ketika orang - orang bergantian menanyakan keadaanku, saat seseorang menyerahkan gulungan uang kertas 100 ribuan ke tanganku, saat seseorang mengantarkan tasku yang tadi menyelamatkan dari sentuhan aspal.
Ku lihat Latif penjaga perpustakaan berada di sebrang jalan, dia tidak tahu bahwa yang celaka itu aku. Beberapa menit aku menunggu arah pandangannya kepadaku, akhirnya dengan lambayan tangan dia menuju ketempatku. Aku perintahkan dia untuk memanggil orang yang ada di kantor untuk membantuku. Aku berdiri, dan berjalan ke arah motorku. Aku ingin pergi lagi, sebab aku tak mau berurusan dengan polisi. Tapi naas di sana ada seorang yang menelopon polisi, dan setelahnya di selidiki ternyata orang itu polisi juga. Aku berjalan tak hiraukan keadaan hingga akhirnya aku sadar ketika ada orang yang melihat pelipisku mengeluarkan darah. Aku usap ternya benar, darah mengalir dari pelipis kananku. Aku duduk di teras KUD sambil menenangkan pikiran, datanglah seorang perempuan tua yang memberikan aku minum, eh ternyata minumannya panas sekali hingga aku mengurungkan niatku untuk minum.
Beberapa menit kemudian datanglah polisi dari kapolsek bayongbong, mereka aku kenal dan aku merasa tenang dengan keadaanya. Aku memperoleh beberapa pertanyaan darinya tentang kejadian yang sebenarnya, dia tak melihat keadaanku seolah demi tugasnya dia tak peduli tentang keadaan yang ada, sudah sakit kena tabrak ditambah lagi dengan pertanyaan-pertanyaan lain.
Motorku dan motor yang menabrakku dia angkut, dan aku di persilahkan duduk dibelakang untuk pergi ke puskesmas Bayongbong. Tiba di Bayongbong aku sendirian sebelum kedua teman baikku datang menjengukku. Di sana telah nampak puluhan saudara-saudara orang yang menabrakku. Aku tak diperbolehkan dulu masuk keruangan pemeriksaan, karena di dalam penuh. Sambil menunggu aku menyerahkan gulungan uang kertas kepada saudaranya si ibu yang kena kepalanya waktu kecelakaan, hingga akhirnya aku terkulai lemas setelah kejadian itu.

“Terima kasih Ya Allah, kau telah menyelamatkan aku dari musibah itu”,.. Amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar