“Satu jam lagi Aku kembali”
Pagi itu
matahari tak seperti hari kemarin, tidak nampak memancarkan cahaya
keindahannya. Di atas terlihat langit biru yang terhampar sebanyak mata
memandang, indah terpancar dari ke Maha Agungan penciptaNya. Di sudut jalan depan
rumahku berisik percakapan dan sedikit tertawa sekumpulan anak Smp terdengar
sayup-sayup di telingaku. Mereka santai menikmati perjalanannya, karena waktu
masih menunjukkan jam 6.30. Di rumah anakku yang pertama sudah mengenakan baju
kebanggaannya, merajut hari di Sekolah Paud yang terletak tidak jauh dari
rumahku. Tumben hari itu tidak menuntutku untuk mengerjakan Pr menulis yang
sangat tidak disukainya.
Aku juga tidak
tahu, kenapa anakku lambat dalam menulis, padahal tulisanku terbilang bagus
kalau di bandingkan dengan guru b inggris Hehe,.. Aku tak bisa menyalahkan anakku ketika ia susah
membandingkan cara membaca maupun
menulis b dan d, Sama sekali aku juga tak menyalahkan guru Paud dengan
kebijaksaan dan usahanya mengharap anakku untuk bisa menulis dan membaca.
Hampir setiap hari dia berusaha bisa menulis, kalau sudah pusing pena yang
digenggamannya di lemparkan kearahku sambil berteriak “ susaaaaaaaaah’.Itulah
anakku yang sangat kubanggakan, yang tak pernah lelah untuk melalukan sesuatu
hal yang bisa jadi sangat menyita pikirannya.
Aku habiskan
kopi hitam di meja tepas yang tinggal setengah lagi, ku ambil kunci motor yang
sudah nampak di depan mata. Kunci yang sesekali hilang tatkala aku berangkat,
kunci yang menyebabkan sedikit cekcok dengan istriku dan kunci itupula yang
pernah menyebabkan aku terlambat menghormat bendera di teras sekolah. Yah
seperti itulah aku, kadang memarahi istriku, ketika kunci motor yang tidak
nampak ketika waktu sudah tidak mengijinkan aku untuk mencarinya. Ku marahi istriku
ketika aku mencari kunci motor dengan waktu 1 atau setengah menit untuk
berangkat.
Pagi itu
sedikit tertib tidak ada perdebatan soal kunci lagi sebab aku sudah siapkan
dari malam dan tidak pula ingin lupa lagi apalagi beragumen dengan istriku.
Sebelum berangkat ,kuambil kantong yang kupersiapkan tadi malam dan menuju ke
ruang dapur untuk mengambil air minum, Breeenk, ngak tahu tersenggol ataupun
jatuh sendiri, tiba-tiba tutup panci yang terlekat di atas kompor jatuh
kelantai mengeluarkan suara keras dan agak panjang, sepontan aku,istri dan anakku
terkejut di buatnya. Lalu terdengarlah tangisan anakku yang masih berumur satu
tahun di dekapan istriku. Aku ambil dan kembalikan tutup panci itu ketempat
semula, dan beranjak pergi meninggalkan keinginan pertama mengambil air minum.
Pagi itu aku lajukan sepeda motor ke arah lain dari
tempatku mengajar, kantor kecamatan tempat tujuanku saat itu. Hari sabtu kemarin
aku mendapatkan mandat dari PKS Kesiswaan untuk menghadiri surat undangan
musyawarah perlombaan MTQ se jawa barat. Tiba di depan kecamatan tidak nampak
satu orangpun yang berpakaian seperti aku. Hanya nampak segerombolan orang yang
memakai pakaian hijau berkumpul di halaman kecamatan, hingga aku bertemu dengan
orang yang aku kenal. Kutanyakan perihal kedatanganku, dan beliau menyatakan
bahwa di aula kecamatan sedang di adakan sertijab. Aku heran jelas terpangpang
di surat itu senin tanggal 05 oktober 2015, tempat aula kecamatan. Apakah ini
tidak salah, sebenarnya yang membuat undangan itu siapa dan kenapa bisa terjadi
seperti itu.
Sedikit kesal
dan setumpuk pertanyaan aku pergi meninggalkan kecamatan, hingga akhirnya aku
lajukan sepeda motor ke sekolah suwasta untuk melaksanakan kewajiban. Tiba di
sekolah aku sudah di tunggu sebagian guru untuk mengerjakan administrasi yang
akan di periksa selasa besok oleh Pengawas. Saat itu aku tidak menolak walaupun
terbayang di kepalaku setumpuk pekerjaan yang harus di selesaikan hari itu. Aku
sadar aku tidak akan mampu menyelesaikan pekerjaan yang semestinya di kerjakan
selama seminggu, dan aku juga sadar bahwa semua yang aku lakukan akan sia-sia.
Tapi sama sekali aku tidak menolak, bahkan aku tersenyum dan membukakan
kesempatan untuk memberi kesenangan dan ketenangan kepada orang lain. Di kelas
sambil menunggu siswa mengerjakan UTSnya aku kerjakan sebisa mungkin. Ku lihat
batree laptopku tinggal 15 persen lagi, sedangkan aku lupa menyiapkan
cassannya. Sampailah pada titik waktunya laptop itu mati sendiri. Setelah
jam terakhir berbunyi aku pun berlalu ke kantor guru, disana nampak seorang
temanku sedang mengerjakan sesuatu
pekerjaan. Dia senang aku ada dan menemaninya dari kesendirian, tapi
kesenangannya pudar saat aku berpamitan untuk pulang dulu ke rumah. Hingga dia
tersenyum kembali ketika aku berjanji satu jam kemudian aku kembali.
Ku pergi
meninggalkan dia, waktu satu jam harus cukup pulang pergi rumah sekolah, ganti
baju, makan siang dan merayu istriku, supaya tidak marah ketika aku hendak
pergi lagi setelah pulang. Selesai mempersiapkan pekerjaan di sekolah, Satu jam
kemudian aku sudah siap berangkat lagi. Baju biru senin sudah terganti kaos,
laptof dan cassannya sudah berada di tasku dan kutinggalkan sejenak kesedihan
anakku melihat kepergianku.
Sungguh aku tidak sadar berapa kecepatan motor yang
berlalu saat aku melaju ke sekolah itu, yang ada di kepalaku pekerjaan sehari
untuk satu minggu. Di depan KUD saat aku mengikuti angkot arah cikajang,
tiba-tiba tanpa ku duga mobil itu berhenti sepontan 2 meter di depanku. Aku
sadar jika aku injak rem sudah terlambat, jaraknya yang tinggal satu meter
pasti aku menabrak angkot tersebut. Aku nyalakan rigting dan berusaha untuk mendahului
angkot tersebut, tanpa di duga “Braaak” kaki kanan dan tanganku tertabrak motor
yang ada di belakangku. Aku sadar hingga rem tangan ku tekan untuk menghindari
supaya laju motorku tertahan. Namun motor yang lain sudah menabrakku lagi dari
belakang, hingga sadar saat aku melayang dan menghantam kantongku yang
tiba-tiba sudah ada di depan kepala. Traaak, kepelaku berbentur laptop yang ku
bawa di dalam tas. Dan akhirnya aku tersungkur juga di jalanan aspal hingga
terbaring lemas.
Beberapa detik
kemudian terlihat orang-orang mengeliliku, aku mencoba berdiri dan melihat
sekelilingku. Hatiku merinding saat terdengar suara anak kecil nangis karena
sakit, aku jadi ingat anakku di rumah. Sebelum aku berdiri badanku sudah ada
yang menarik untuk di kepinggirkan ke daerah aman. Aku tak kuasa melawan,
hingga akhirnya aku berada di pinggir warung dekat KUD yang saat itu tidak
terbuka. Aku sadar ketika orang - orang bergantian menanyakan keadaanku, saat
seseorang menyerahkan gulungan uang kertas 100 ribuan ke tanganku, saat
seseorang mengantarkan tasku yang tadi menyelamatkan dari sentuhan aspal.
Ku lihat Latif
penjaga perpustakaan berada di sebrang jalan, dia tidak tahu bahwa yang celaka
itu aku. Beberapa menit aku menunggu arah pandangannya kepadaku, akhirnya
dengan lambayan tangan dia menuju ketempatku. Aku perintahkan dia untuk
memanggil orang yang ada di kantor untuk membantuku. Aku berdiri, dan berjalan
ke arah motorku. Aku ingin pergi lagi, sebab aku tak mau berurusan dengan
polisi. Tapi naas di sana ada seorang yang menelopon polisi, dan setelahnya di
selidiki ternyata orang itu polisi juga. Aku berjalan tak hiraukan keadaan
hingga akhirnya aku sadar ketika ada orang yang melihat pelipisku mengeluarkan
darah. Aku usap ternya benar, darah mengalir dari pelipis kananku. Aku duduk di
teras KUD sambil menenangkan pikiran, datanglah seorang perempuan tua yang
memberikan aku minum, eh ternyata minumannya panas sekali hingga aku mengurungkan
niatku untuk minum.
Beberapa menit
kemudian datanglah polisi dari kapolsek bayongbong, mereka aku kenal dan aku
merasa tenang dengan keadaanya. Aku memperoleh beberapa pertanyaan darinya
tentang kejadian yang sebenarnya, dia tak melihat keadaanku seolah demi
tugasnya dia tak peduli tentang keadaan yang ada, sudah sakit kena tabrak
ditambah lagi dengan pertanyaan-pertanyaan lain.
Motorku dan
motor yang menabrakku dia angkut, dan aku di persilahkan duduk dibelakang untuk
pergi ke puskesmas Bayongbong. Tiba di Bayongbong aku sendirian sebelum kedua
teman baikku datang menjengukku. Di sana telah nampak puluhan saudara-saudara
orang yang menabrakku. Aku tak diperbolehkan dulu masuk keruangan pemeriksaan,
karena di dalam penuh. Sambil menunggu aku menyerahkan gulungan uang kertas
kepada saudaranya si ibu yang kena kepalanya waktu kecelakaan, hingga akhirnya
aku terkulai lemas setelah kejadian itu.
“Terima kasih Ya Allah, kau telah
menyelamatkan aku dari musibah itu”,.. Amin

