Harga
dari Seratus Ribu
Pagi itu hari sabtu jam 8.30,
terdengar di ujung kantor bel jam kedua berbunyi, ku matikan dan kututup laptop
lalu kumasukan ke dalam tas. Setelah jam
pertama selesaai di kelas VII e,jam selanjutnya di kelas VII f yang kelasnya
berdampingan dengan kelas VIIe. Hanya dibatasi dengan ruangan parkir mobil, itu
juga cukup satu mobil. Sedangkan sekarang dijadikan tempat untuk menyimpan alat
untuk bangunan kelas baru. Aku langsung
menuju kelas f, Kutaruh tas ku di atas meja dan kusuruh siswa - siswi untuk
membaca dulu materi yang akan di sampaikan, lalu aku keluar menuju kantor untuk
sekedar membasahi kerongkongan yang kering setelahnya mengajar di kelas e.
Dikantor ada sebagian guru yang sedang duduk
dan bercengkrama, ngak tahu apa mereka bicarakan. Mungkin juga dia sedang
membicarakan tentang materi pelajaran, tentang KS, tentang PKS, tentang materi kehidupan yang terjadi di sekolah ini. Tapi apapun yang
mereka bicarakan, aku takkan peduli dan mungkin aku tak pernah peduli. Karena
aku melihat semuanya berperan masing masing untuk kepentingannya pribadi.
Mendingan kalau tentang Silabus, RPP ataupun administrasi lain demi menunjang
kepada kinerjanya. Kalau pekerjaannya hanya untuk menyikut dan mencemarkan nama
baik orang demi kewibawaannya, atau demi
menambah uang saku, atau uang tagihan , atau pun atau, atau yang lain yang tak pernah kupedulikan semuanya.
Ku menuju tempat air minum, air
galonnya masih ada setengah. Biasanya pas istirahat air galon itu tinggal sejari
dilihat dari bawah, atau bisa jadi sudah kosong. Kuambil gelas dan ku kocokan
dulu, biar ngak ada harum yang menyengat ketika hendak di minum. Selidik demi
selidik, semua guru juga pernah merasakan mual ketika minum dengan gelas yang
ada di situ. Makanya Sekarang setiap meja pasti ada Taper Wer atau apapun yang mereka bawa
sebagai ganti gelas yang ada di kantor. Aku tak peduli bagaimana cara
mencucinya, dan aku juga ngak peduli air apa yang dia gunakannya. Yang penting
aku tak mengeluarkan sebagian makanan setelah sarapan tadi pagi ketika ku cium
gelas itu. Ku lihat ada teh sariwangi tinggal satu, memang seperti itu. Di
kantor yang berjumlah 23 guru, hanya menyediakan 3 atau 5 sariwangi untuk
keperluan guru, tentunya guru pertama dan kelima yang merasakan wanginya teh di gelasnya.
Sedangkan yang lainnya cukup menikmati harumya air putih dengan gelas yang yang
sedikit bau amis.
Kayanya pengganti kopi, teh manis
juga tak jadi masalah. Ku ambil sendok yang tergelepak di pinggir gula putih,
itu juga bekas guru lain. Aku tak peduli, karena sungguh sendok lainnya juga
tidak terdapat disana. Ketika ku mau
ngambil gula putih, terlihat diantara gula putih dipinggirnya ada kotoran
tikus. Sedikit terkejut dan mual, namun untuk menghilangkan jejak aku ambil
kotoran itu bersama sebagian kecil gulanya. Sudah beberapa kali aku menemukan
seperti itu, tapi kayaknya ngak ada yang peduli sama sekali. Gula putih bersama
tempatnya tidak pernah bergeser dan tak pernah ditutup pula, ini menggelikan
sekali sehingga bisa jadi tiap malam tikus berpesta di sana. Dan bisa juga
bakteri lain hinggap pula di perut orang yang tidak bersalah. Tapi Aku tak
peduli juga, dari pada tidak sama sekali aku buatkan juga teh manis yang
aromanya ada sedikit mual.
Aku duduk paling belakang
diantara deretan bangku di kantor itu. Aku tak membayangkan sedikitpun berada
di sana, tapi itu keadaan yang membuat tidak bisa berargumen. Ada tiga nama
guru yang biasa menggunakan bangku itu, tapi semuanya berjalan tanpa masalah. Kami
tak pernah membincangkan masalah bangku, kami juga tak pernah membicarakan
tentang ketidak adilan yang terbelenggu. Sehingga Kami menikmati semuanya tanpa
mengurangi kebahagian orang yang saat itu ada di atas kami semua.
Aku berjalan sambil membawa teh
masis yang akan kunikmati, hingga tibalah di antara 3 orang guru yang ada di
deretan paling belakang. Aku duduk, walaupun kedatanganku mengusik teman ku
yang sedang asik di kursi itu, dan dia beralih ke kursi yang ada di samping
mejaku. Aku tak peduli dan akupun tak merasa risi, karena itu sudah biasa
terjadi.
Sebelum aku menikmati teh manis
yang ngak bisa kubayangkan enaknya, tiba-tiba datanglah PKS terbuka. Dia simpan
kantong di meja paling depan dan beranjak ke tempat kami berkumpul. Tanpa
disangka dia menerorku, dengan dalih aku tidak hadir kemarin ke terbuka, dengan
dalih kasihan dengan temenku, dengan dalih untuk kemajuan Terbuka, dengan
dalih- dalih yang lain yang bisa menutupi kebaikannya Red.. “Aku di berhentikan
dari SMP terbuka”. Aku sama sekali tak
peduli, sekaligus tak mengerti tentang sistem apa yang di gunakannya. Aku pergi keluar bersama
dengan kepergian teka teki yang selama ini dia gunakan. Aku pergi bersama
dengan ketidak terbukaan terhadap SMP terbuka. Walau sebenarnya aku akui sangat
sakit, tapi aku bersukur telah terlepas dari kekuasaan yang tak terbuka.
Seandainya kemarin aku tak
mengantarkan istriku ke Cikajang, seandainya aku masuk walau satu hari, seandainya
dia tak peduli dengan harga 100 ribu,pasti bulan ini aku dapat gajih 100 ribu. Tapi
ngak apa-apa, mungkin 100 sangat berarti baginya, 100 bisa menyingkirkan orang
yang tidak sependapat, 100 bisa membuat
dia terbahak-bahak di terasnya, dan bisa jadi 100 pula menjadikan aku semakin
berontak...
Aku takut tak bisa mengendalikan
hawa napsuku, dan beranjak pergi sambil berkata “Alhamdulillah, akhirnya aku
terlepas dari belenggu ketidak terbukaan di SMP terbuka”.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar