Minggu, 08 November 2015

CERPEN 100 RIBU

Harga dari Seratus Ribu
Pagi itu hari sabtu jam 8.30, terdengar di ujung kantor bel jam kedua berbunyi, ku matikan dan kututup laptop lalu kumasukan ke dalam  tas. Setelah jam pertama selesaai di kelas VII e,jam selanjutnya di kelas VII f yang kelasnya berdampingan dengan kelas VIIe. Hanya dibatasi dengan ruangan parkir mobil, itu juga cukup satu mobil. Sedangkan sekarang dijadikan tempat untuk menyimpan alat  untuk bangunan kelas baru. Aku langsung menuju kelas f, Kutaruh tas ku di atas meja dan kusuruh siswa - siswi untuk membaca dulu materi yang akan di sampaikan, lalu aku keluar menuju kantor untuk sekedar membasahi kerongkongan yang kering setelahnya mengajar di kelas e.
 Dikantor ada sebagian guru yang sedang duduk dan bercengkrama, ngak tahu apa mereka bicarakan. Mungkin juga dia sedang membicarakan tentang materi pelajaran, tentang KS, tentang  PKS, tentang materi kehidupan  yang terjadi di sekolah ini. Tapi apapun yang mereka bicarakan, aku takkan peduli dan mungkin aku tak pernah peduli. Karena aku melihat semuanya berperan masing masing untuk kepentingannya pribadi. Mendingan kalau tentang Silabus, RPP ataupun administrasi lain demi menunjang kepada kinerjanya. Kalau pekerjaannya hanya untuk menyikut dan mencemarkan nama baik orang demi kewibawaannya, atau  demi menambah uang saku, atau uang tagihan , atau pun atau, atau  yang lain yang  tak pernah kupedulikan semuanya.   
Ku menuju tempat air minum, air galonnya masih ada setengah. Biasanya pas istirahat air galon itu tinggal sejari dilihat dari bawah, atau bisa jadi sudah kosong. Kuambil gelas dan ku kocokan dulu, biar ngak ada harum yang menyengat ketika hendak di minum. Selidik demi selidik, semua guru juga pernah merasakan mual ketika minum dengan gelas yang ada di situ. Makanya Sekarang setiap meja pasti ada  Taper Wer atau apapun yang mereka bawa sebagai ganti gelas yang ada di kantor. Aku tak peduli bagaimana cara mencucinya, dan aku juga ngak peduli air apa yang dia gunakannya. Yang penting aku tak mengeluarkan sebagian makanan setelah sarapan tadi pagi ketika ku cium gelas itu. Ku lihat ada teh sariwangi tinggal satu, memang seperti itu. Di kantor yang berjumlah 23 guru, hanya menyediakan 3 atau 5 sariwangi untuk keperluan guru, tentunya guru pertama dan kelima  yang merasakan wanginya teh di gelasnya. Sedangkan yang lainnya cukup menikmati harumya air putih dengan gelas yang yang sedikit bau amis.
Kayanya pengganti kopi, teh manis juga tak jadi masalah. Ku ambil sendok yang tergelepak di pinggir gula putih, itu juga bekas guru lain. Aku tak peduli, karena sungguh sendok lainnya juga tidak  terdapat disana. Ketika ku mau ngambil gula putih, terlihat diantara gula putih dipinggirnya ada kotoran tikus. Sedikit terkejut dan mual, namun untuk menghilangkan jejak aku ambil kotoran itu bersama sebagian kecil gulanya. Sudah beberapa kali aku menemukan seperti itu, tapi kayaknya ngak ada yang peduli sama sekali. Gula putih bersama tempatnya tidak pernah bergeser dan tak pernah ditutup pula, ini menggelikan sekali sehingga bisa jadi tiap malam tikus berpesta di sana. Dan bisa juga bakteri lain hinggap pula di perut orang yang tidak bersalah. Tapi Aku tak peduli juga, dari pada tidak sama sekali aku buatkan juga teh manis yang aromanya ada sedikit mual.
Aku duduk paling belakang diantara deretan bangku di kantor itu. Aku tak membayangkan sedikitpun berada di sana, tapi itu keadaan yang membuat tidak bisa berargumen. Ada tiga nama guru yang biasa menggunakan bangku itu, tapi semuanya berjalan tanpa masalah. Kami tak pernah membincangkan masalah bangku, kami juga tak pernah membicarakan tentang ketidak adilan yang terbelenggu. Sehingga Kami menikmati semuanya tanpa mengurangi kebahagian orang yang saat itu ada di atas kami semua.
Aku berjalan sambil membawa teh masis yang akan kunikmati, hingga tibalah di antara 3 orang guru yang ada di deretan paling belakang. Aku duduk, walaupun kedatanganku mengusik teman ku yang sedang asik di kursi itu, dan dia beralih ke kursi yang ada di samping mejaku. Aku tak peduli dan akupun tak merasa risi, karena itu sudah biasa terjadi.
Sebelum aku menikmati teh manis yang ngak bisa kubayangkan enaknya, tiba-tiba datanglah PKS terbuka. Dia simpan kantong di meja paling depan dan beranjak ke tempat kami berkumpul. Tanpa disangka dia menerorku, dengan dalih aku tidak hadir kemarin ke terbuka, dengan dalih kasihan dengan temenku, dengan dalih untuk kemajuan Terbuka, dengan dalih- dalih yang lain yang bisa menutupi kebaikannya Red.. “Aku di berhentikan dari SMP  terbuka”. Aku sama sekali tak peduli, sekaligus tak mengerti tentang sistem apa  yang di gunakannya. Aku pergi keluar bersama dengan kepergian teka teki yang selama ini dia gunakan. Aku pergi bersama dengan ketidak terbukaan terhadap SMP terbuka. Walau sebenarnya aku akui sangat sakit, tapi aku bersukur telah terlepas dari kekuasaan yang tak terbuka.
Seandainya kemarin aku tak mengantarkan istriku ke Cikajang, seandainya aku masuk walau satu hari, seandainya dia tak peduli dengan harga 100 ribu,pasti bulan ini aku dapat gajih 100 ribu. Tapi ngak apa-apa, mungkin 100 sangat berarti baginya, 100 bisa menyingkirkan orang yang tidak sependapat,  100 bisa membuat dia terbahak-bahak di terasnya, dan bisa jadi 100 pula menjadikan aku semakin berontak...
Aku takut tak bisa mengendalikan hawa napsuku, dan beranjak pergi sambil berkata “Alhamdulillah, akhirnya aku terlepas dari belenggu ketidak terbukaan di SMP terbuka”.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar